Tak ada salahnya jika saya mengatakan ‘materi’ terkadang mampu menggerus idealisme, kritisisme, atau bahkan prinsip seseorang. Ketiga hal pokok tadi merupakan fondasi yang membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang betul-betul tahu akan jati dirinya dan tahu kemana ia akan melangkah. Sehingga sangat disayangkan jika harus tergerus oleh keutopiaan materi dunia. Tak sedikit para aktivist-aktivist yang berteriak didepan gedung-gedung DPR dengan lantang atau menorehkan pemikiran-pemikiran mereka yang kritis di media massa. Namun, ironisnya ketika mereka telah duduk disinggasana ‘kursi panas wakil rakyat’, mereka lupa akan amanat yang diemban, pemikiran-pemikiran kritis itu hilang, mulut mereka terkunci, tak ada lagi idealisme, yang ada hanya uang yang berbicara, materi! Ibarat lingkaran setan, terjebak dan terlena didalamnya.

Tak jauh berbeda pula dengan kreatifitas menulis. Menulis sejatinya adalah penyampaian pesan atau amanat kepada orang lain sehingga mampu memberi suatu nilai positif kepada orang lain. Menulis sarat dengan idealisme sang penulis, pemikiran kritisnya dan juga prinsipnya. Namun, hal-hal tersebut terkadang mampu hilang jika ‘materi’ telah menjadi tujuan akhirnya. Jangankan penulis yatim piatu, penulis non yatim piatu pun atau seorang penulis dari keluarga menengah/mapan setidaknya memiliki mimpi yang sama, yaitu mampu mendapat penghasilan yang besar dari tulisannya atau bahkan ingin terkenal dan disanjung-sanjung seperti penulis yang sudah terkenal. Sehingga terkadang mereka menggunakan jalan pintas yang instan. Namun, apa pesan dan amanat yang ada di dalam tulisannya? Tulisannya ibarat kebun yang kering dan gersang. Dibutakan oleh materi, terjebak dalam alur lingkaran setan.

Oleh karena itu, tidak terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa menulis haruslah dengan hati, amanah, menyampaikan sesuatu dengan jujur dengan dilandaskan niat ibadah. Insya Allah ketiga fondasi yang sebelumnya saya jelaskan akan semakin kokoh, dimana berguna untuk lebih menambah kualitas tulisan kita nantinya. Saya sendiri menyadari, jika kita telah mengetahui kunci dari ‘menulis’, maka menulis akan menjadi ladang harta. Menulis akan menjadi sangat dekat dengan ‘lingkaran setan’ yang akan membuat kita lupa diri. Saya tidak ingin hal itu terjadi pada diri ini dan kawan-kawan penulis lainnya. Jika ada teman yang menanyakan, “Untuk apa kamu menulis?”, pertanyaan itu mungkin tak jadi masalah bagi saya karena saya bisa menjawab dengan berbagai macam jawaban, tapi jika hati ini sendiri yang bertanya, “Untuk apa kamu menulis?” , itulah yang menjadi masalah, karena hati tak dapat dibohongi, hati yang menggerakkan segalanya. Namun, sekarang saya tak akan pernah ragu untuk menjawab ataupun membohongi hati ini karena dengan tekad yang bulat saya menjawab, “saya menulis untuk beribadah”.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, saat seorang temanku mengirimkan sebuah pesan pendek ke hape ku yang memintaku untuk menandatangani presensi kehadirannya, dengan alasan ia tak bisa datang karena malas dan ngantuk. Didalam hatiku bergejolak emosi, aku tidak ingin menandatanganinya! Bahkan ada yang hanya datang kuliah, masuk kelas dan menandatangani presensi, lalu keluar lagi. Mereka berkumpul dengan komunitasnya menjadi aktivis-aktivis kantin. Ya…Aktivis Kantin.

Inikah wajah pemuda saat ini? Wajah generasi muda Indonesia saat ini? Yang penuh dengan kemalas-malasan.

 

Cobalah sesekali melihat kedalam suatu diskotik atau tempat hiburan malam lainnya, siapa yang ada didalam sana? Dengan segala hingar bingar minuman keras, sex bebas, atau bahkan obat-obatan terlarang, Ya…didalam sana terdapat para penerus bangsa ini. Inikah wajah pemuda bangsa ini? Yang penuh dengan kesenangan utopia dan kerusakan moral?

 

Bahkan baru-baru ini kita digegerkan dengan kabar akan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh geng-geng siswi suatu sekolah menengah atas di Pati. Sebelumnya lagi, ada beberapa korban yang berjatuhan hingga tewas, akibat perbuatan dari geng motor yang ada di Bandung. Entah berapa banyak geng-geng siswa SMP-SMA yang ada di Indonesia ini dengan segala tindak kekerasannya yang belum terekspos media massa. Persoalan ini memang tak pernah ada habisnya, tawuran antar pemuda ataupun mahasiswa tetap eksis dari dahulu hingga kini. Merusak segala fasilitas-fasilitas umum dan mengganggu ketenangan orang lain. Inikah wajah pucuk bangsa ini? Dengan segala tindakan kekerasannya. Akan menjadi apa negeri ini jika mereka yang memimpinnya kelak?

 

Pemuda, sejatinya memiliki peran yang sangat krusial dalam membangun suatu bangsa. Pemuda dipersiapkan sebagai kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional, dengan memberi bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme, idealisme, dan kepribadian yang berbudi luhur (Munandar, 2006). Apakah dengan bermalas-malasan, minum minuman keras atau memakai obat terlarang akan menumbuhkan kesegaran jasmani? Atau menumbuhkan daya kreasi dan kepemimpinan? Apakah kebebasan yang seluas-luasnya tanpa batas merupakan idealisme pemuda saat ini? Apakah dengan melakukan tindakan kekerasan merupakan suatu keterampilan, atau sebuah patriotisme, atau memperlihatkan kepribadian yang berbudi luhur? TIDAK!. Jangan heran jika hal ini tidak berubah, maka kondisi pemerintahan negeri ini akan lebih kacau. Mungkin saja praktek-praktek korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah dan wakil rakyat, dari unit yang terkecil hingga yang teratas akan semakin menjamur, dan KPK akan kewalahan menanganinya. Mungkin juga akan banyak ditemukan wakil-wakil rakyat dengan skandal seks bebasnya. Mungkin juga bangsa ini akan lebih sering menyaksikan laga siaran langsung adu jotos para wakil rakyat di setiap sidang dan rapat. Atau mungkin juga kita akan sering menyaksikan pembuatan kebijakan dan peraturan yang tidak jelas karena para wakil rakyat telah pulas ketiduran di ruang sidang, atau mungkin juga jumlah rakyat sengsara dan miskin akan semakin bertambah karena para pejabat, birokrat, dan wakil rakyat malas untuk turun langsung ke lapangan melihat kondisi rakyatnya.

 

Jangan sampai wajah negeri ini menjadi seperti itu. Pemuda adalah faktor penting dalam menentukan wajah negeri ini. Jika banyak pemuda yang rusak, maka rusaklah negeri ini. Pemuda adalah ujung tombak pembangunan dan kepemimpinan bangsa ini, karena negeriku ini adalah negeri pemuda. Negeri yang dibangun dengan fondasi semangat kepemudaan. Negeri Plural yang disatukan oleh para pemuda-pemudinya.

 

Tengoklah apa yang dilakukan Raden Mas Tirtoadisuryo. Dengan senjata Surat Kabarnya, ia melawan kolonialisme Belanda. Menyampaikan informasi ke seluruh Indonesia akan wajah bangsa ini dibawah imperialisme Belanda. Ia membangkitkan semangat para pembacanya bahwa bangsa Indonesia harus melawan dari segala bentuk penjajahan. Bangkit dan Lawan. Tak heran jika ia disebut sebagai seorang pemuda pioneer Jurnalisme bangsa ini. Lihatlah Dr. Sutomo, dkk, pemuda dan mahasiswa STOVIA, jasa-jasanya selalu dikenang hingga kini sebagai tonggak kebangkitan bangsa. Dengan organisasi Boedi Oetomo, mereka bergerak menyatukan bangsa ini, memberi pencerahan kepada saudara-saudaranya agar lepas dari kebodohan. Jika ingin bangkit, maka kita harus memiliki kekuatan. Kekuatan itu adalah ilmu pengetahuan dan intelektualitas. Bangkit dengan berorganisasi untuk mengumpulkan kekuatan. Itulah sumbangsih Boedi Oetomo bagi bangsa ini. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 pun diprakarsai oleh pemuda-pemudi seluruh Indonesia untuk berjanji dan mengikrarkan diri mereka bahwa mereka adalah satu, yaitu bangsa Indonesia. Pendiri dan proklamator bangsa ini pun juga masih Pemuda, Sukarno-Hatta, dengan semangat nasionalismenya berhasil membakar semangat berkebangsaan untuk maju dan melawan segala bentuk penjajahan. Seorang Amien Rais, aktifis berjiwa muda yang mampu mengubah negeri ini untuk lepas dari penindasan belenggu orde baru menjadi era reformasi. Munir, pemuda aktivis pembela HAM yang wafat dalam perjalanan tugasnya. Para atlet-atlet muda dan ilmuwan-ilmuwan muda yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Dan entah berapa banyak lagi pahlawan-pahlawn muda yang telah membangun negeri ini.

 

Tak salah jika aku menyebut bahwa negeriku ini adalah negeri pemuda. Negeri yang lahir dengan semangat kepemudaan dan gerakan kepemudaan, dan harus diteruskan oleh generasi-generasi muda saat ini, karena jika bukan pemuda, siapa lagi?

 

Jika ingin menghancurkan suatu bangsa, maka hancurkanlah Pemudanya. Aku tidak ingin Bangsaku ini hancur, maka bangkitlah Pemuda Indonesia! Jangan melihat apa yang sudah kita lakukan, tapi apa yang mampu kita berikan untuk masyarakat banyak, sekecil apapun itu pasti ada gunanya. Bangsa yang ingin bangkit, maka terlebih dahulu bangkitkanlah Pemuda-pemudanya dengan Sumpah dan ikrar mereka.

 

***

 

 

anak dan buku 

Aku tidak ingin mengatakan bahwa bangsaku ini adalah bangsa yang tertinggal atau tidak maju dibanding bangsa Asia lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangganya yang luasnya tak lebih dari luas Provinsi Yogyakarta atau negara tetangga yang sempat berguru pada bangsaku ini pada masa lalu. Walaupun pada kenyataannya bangsaku ini memang sebuah bangsa yang tertinggal, ditambahi oleh seribu satu masalah yang melandanya.

Aku ingin menanamkan rasa optimisku bahwa bangsaku ini sedang berjalan untuk maju mengejar ketertinggalannya dan suatu saat mampu untuk sejajar dengan bangsa lainnya, walaupun aku merasa bangsaku ini seperti jalan di tempat sejak era kebangkitan reformasi.

 

Lalu apa yang sebenarnya membuat bangsaku ini tertinggal? Untuk menjawab pertanyaan ini bukanlah suatu hal yang mudah, karena ada banyak argumen yang bisa diajukan untuk menjawabnya, disebabkan masalah yang menjangkiti bangsaku ini telah mencapai taraf krisis multidimensi. Jadi, jawaban yang akan kuutarakan ini hanyalah mewakili segelintir faktor namun menurutku cukup signifikan.

 

Teringat aku akan sebuah soal ujian akhir semester agama islam III (tafsir dan hadis). Kurang lebih soal itu menanyakan mengenai sumber ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Aku menjawabnya dengan mantap bahwa sumber ilmu pengetahuan di dunia ini adalah Kalam Allah SWT. Ya, itulah sumber ilmu pengetahuan, dan Kalam Allah SWT terhampar dan tersebar luas dijagat raya ini. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, merupakan ilmu, yang kesemuanya telah termaktub dalam kitab suci Al-Quran. Bagaimana kita mampu untuk mempelajari dan menyerap itu semua? Maka tak heran jika wahyu Allah SWT yang pertama kali turun kepada Nabi Besar Muhammad SAW adalah memerintahkan untuk MEMBACA. Surat Al-Alaq ayat 1-5 berbunyi :

1. Bacalah! dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Membaca’ adalah jawaban dari pertanyaanku tadi, karena membaca adalah jendela wawasan. Dengan membaca, kita akan mengetahui segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, bahkan untuk di akhirat kelak. Dengan membaca maka kita mendapat ilmu pengetahuan, dan dengan ilmu pengetahuan kita bisa mengangkat derajat kita untuk lebih menjadi manusia yang maju. Jika kegiatan membaca dilakukan dengan kolektif atau banyak orang, maka manfaat yang didapatkan tentu besar pula, yaitu mengangkat derajat banyak manusia sehingga mereka mampu untuk maju, jika banyak manusia Indonesia maju maka bangsaku ini juga turut maju. Namun, hal itu tak semudah apa yang kita pikirkan. Bukan sekedar membaca yang mesti kita lakukan, tapi Membaca mesti dijadikan sebagai sebuah kebiasaan atau bahkan budaya. Budaya Membaca. Karena dari suatu budaya akan membentuk suatu peradaban. Maka budaya membaca akan membentuk peradaban yang maju pada sebuah bangsa. Tapi sayang, bangsaku ini belum membudayakan dan membiasakan membaca. Bahkan banyak orang dengan pesimis mengatakan bahwa bangsaku ini adalah bangsa yang malas, malas untuk membaca. Ada sebuah penggalan artikel dari sebuah blog, aku lupa nama blognya, yang membahas kebiasaan membaca bangsaku ini:

Seperti kita tahu, apabila kita bandingkan antara perilaku bangsa Indonesia dg

bangsa2 lain dalam soal kebiasaan membaca ini sangat jauh tertinggal. Kita lihat

contoh yg mudah, saat2 melakukan perjalanan baik di darat (bus, atau kereta api)

atau perjalanan udara (pesawat) selalu kita lihat banyak orang dari

bangsa-bangsa lain (eropa, amerika, termasuk India) yg menggunakan waktu luang

di perjalanan dg membaca buku; entah itu berupa buku serius atau sekedar novel

fiksi. Pemandangan2 semacam itu tidak pernah kita lihat dilakukan oleh orang2

Indonesia.

Apa yg menyebabkan kita malas baca? Jawaban simpelnya: karena kita bangsa yg

pemalas! Kumpulan orang2 pemalas dan patetis yg selalu ingin mendapatkan

keuntungan (materi) dg tanpa harus bekerja keras. Namun menurut salah seorang

rekan kita yg sudah menyelesaikan gelar Ph.D-nya di Aligarh University, yaitu

DR. Mujab Mashudi (kakaknya Qisai), kemalasan dg lemahnya kreatifitas kita di

panggung internasional adalah karena bangsa kita termasuk dalam kategori bangsa

yg masih muda. Bangsa yg masih muda akan cenderung mengikuti tradisi awal

sejarah umat manusia; bukan terbiasa membaca tapi berbicara; tidak terbiasa

menulis tapi bercerita. Tidak terbiasa bekerja keras, tapi bermalas-malasan.

Membaca artikel itu sedikit membuat miris hatiku. Walaupun aku belum pernah melihat seperti apa bangsa-bangsa lain diluar sana dengan kebiasaan membacanya, namun setidaknya aku pernah melihat disela-sela waktu luangku saat diperjalanan darat, udara, maupun air, bahwa sudah banyak juga orang-orang dari bangsaku yang menggunakan waktu luangnya untuk membaca Koran, majalah, ataupun buku serius lainnya. Tapi memang hal itu semua belum menjadi suatu kebiasaan atau budaya.

 

Hal ini aku rasakan dahulu saat aku masih berada di daerah asalku. Sejak SD-SMA, aku tak tahu mengapa guru-guruku sedikit sekali menstimulus murid-muridnya untuk membiasakan membaca Koran atau buku-buku pengetahuan umum lainnya. Hanya terpaku pada buku ajar bidang studi yang sedang digeluti. Perpustakaan sangat sedikit pengunjungnya. Bahkan hal ini diperparah dengan sedikitnya jumlah toko buku. Walaupun ada toko buku, namun buku-buku yang ada kurang up to date. Tidak lengkap koleksinya. Bahkan internet belum menjamur seperti yang terjadi di kota tempat aku kuliah saat ini, Jogja. Didaerah asalku justru lebih banyak toko pakaian dan makanan dibanding toko buku, yang mana hal itu justru mendidik dan menumbuhkan budaya konsumtif yang negatif bagi masyarakat setempat.

Benarkah bangsaku ini adalah bangsa yang malas? Bangsa yang malas untuk membaca sehingga menyebabkan bangsa ini tidak maju? Aku rasa tidak, bangsaku bukanlah bangsa pemalas. Bangsaku bukan malas untuk membaca, tapi mereka tidak terbiasa untuk membaca. Bahkan ada yang berkeinginan untuk terbiasa membaca tapi kemampuan untuk menyalurkannya tak ada. Inilah masalah intinya.

 

Daerah asalku belum memiliki kebiasaan untuk membaca. Dan itu harus segera ada yang memulai secara kolektif untuk menumbuhkan kebiasaan dan budaya membaca. Mengapa aku mengatakan seperti itu? Aku kagum dengan kota dimana aku berpijak saat ini. Jogja. Kota pelajar, yang tak bisa dipungkiri selalu identik dengan kegiatan membaca. Saat pertama kali aku tiba di kota ini, aku melihat warung-warung yang dipenuhi orang yang makan dengan ditemani aktifitas membaca Koran. Toko-toko buku yang banyak dan selalu dipenuhi oleh para pelajar dan mahasiswa. Seminar, bazaar, pameran, dan bedah buku sering diadakan. Buku-bukunya pun selalu up to date. Di halte, stasiun, bandara, orang-orang menggunakan waktu luangnya untuk mambaca. Bahkan di tempat ibadah sekalipun lembaran-lembaran dakwah yang diperuntukkan jemaah selalu tersedia, serta setiap kantor kelurahan dan kecamatan selalu menyediakan tempat untuk menempel Koran lokal dan nasional untuk dibaca warga setempat. Membaca telah menjadi budaya di kota ini. Inilah yang mesti ditiru oleh daerahku dan daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia.

Apakah cukup hanya dengan menumbuhkan kebiasaan,minat, dan menjadi sebuah budaya baca, lalu bangsa ini akan maju? Ternyata itu belum cukup. Walaupun telah menjadi kebiasaan bahkan memiliki minat tinggi untuk membaca, ternyata bangsa kita ini memiliki daya beli yang sangat rendah. Daya untuk membeli buku dan bacaan lainnya, daya membeli ilmu pengetahuan.

 

Dikarenakan adanya PPN yang dipungut dari pembelian kertas oleh industri pers, maka harga buku dan sejenisnya menjadi cukup mahal. Ditambah dengan naiknya harga BBM, maka harga barang semakin melonjak. Untuk makan saja susah apalagi untuk membeli buku. Oleh karena itu, memungut pajak pengetahuan sama saja melemahkan minat baca bangsa ini.

 

Ada sebuah penggalan iklan di Koran Tempo, edisi rabu, 18 Juni 2008. Sebuah komentar dari seorang kepala sekolah suatu SD, Ibu Siti Amanati, BA.

Minat baca anak didik saya sebenarnya cukup bagus, tapi kalau daya belinya rendah apa mau dikata….makanya kalau saya bawa Koran bekas ke sekolah, langsung jadi rebutan dibaca anak-anak, mereka ngga peduli beritanya sudah basi. Jadi, kalau harga Koran naik lagi, bagaimana kita mau menyukseskan Gerakan Membaca Koran? Ilmu pengetahuan kok dipajaki..

 

Ya, memang Presiden SBY telah mencanangkan “Gerakan Membaca Koran” di Semarang, 9 Februari 2008 lalu, tapi coba bayangkan, membeli Koran saja bangsa kita ini sudah banyak yang tidak mampu, apalagi untuk membeli buku bacaan lainnya. Bagaimana bangsa ini mampu untuk maju? Semoga pemerintah mampu bertindak arif dan bijaksana dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan bangsa ini. Sejatinya, pemerintah yang bijak tidak memungut pajak pengetahuan ( buku dan media cetak ), karena akan menyebabkan pembodohan dan pemiskinan bangsa.

Majulah Bangsaku!

 

 

 

Apalah artinya sebuah nama. Kalimat itu terngiang ditelingaku pada saat pertama kali aku membuat blog ini, yang kurasa esensi dari kalimat tersebut adalah mencerminkan suatu kesahajahan dan perendahan yang salah akan suatu identitas dan jati diri. Jelas suatu nama mengandung arti yang banyak, bahkan nama tersebut dapat menjadi suatu materi yang mampu lebih menghidupkan materi yang hidup. Nama memberikan kekuatan pada si empunya, nama memberikan citra, nama memberikan refleksi, nama memberikan identitas, nama mampu membuat orang ketakutan, malu, sedih, gembira, tertawa dan marah.

Mengapa aku berbicara soal nama?karena aku yang kebingungan saat aku mencoba memberi nama yang tepat untuk blogku ini. Mulanya aku hanya asal-asalan saja memberi nama, aku tidak terlalu memusingkan. Toh yang terpenting adlah isi dari blog ini. Namun, aku mulai berpikir, justru nama itu yang secara tidak langsung memberiku kekuatan untuk menulis, memberi daya agar orang mau membaca tulisanku. Dan kini aku percaya bahwa dibalik sebuah nama ada sesuatu kekuatan yang tersembunyi. layaknya sebuah bintang, memiliki cahaya sendiri yang mampu menerangi jagad raya. Bukan bulan! yang hanya mampu memantulkan cahaya matahari.

Perenunganku saat ini…….Nama?

it\'s me

Hari ini dan kemarin, saya mungkin bukanlah orang yang sangat tahu tentang ilmu agama dan bukanlah orang yang sangat taat. Namun saya tidak ingin seperti itu selamanya karena saya sangat haus akan ilmu agama serta ingin menjadi seorang muslim yang taat.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya walapun saya bukanlah orang sangat tahu agama, tetapi saya memiliki hasrat untuk tahu dan memiliki jiwa seorang muslim yang sangat cinta terhadap agamanya, ISLAM. Jiwa ini serasa sakit ketika Islam dicaci maki diluar sana, didiskriminasikan oleh kekuatan barat. Saya seperti orang bodoh yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk agama islam tercinta. Apa yang mampu saya perbuat? Apakah dengan berperang menggunakan senjata ataupun bom bunuh diri yang sering terjadi di wilayah Palestina sana. Hati kecil ini berkata tidak! Untuk menjadi seorang pembela agama yang berjihad fisabiilillah tidak harus dengan senjata. Seperti yang dikatakan Hiro, seorang tokoh dalam film seri HEROES, “A man doesn’t need a power to be a hero”. Memang benar. Saya tidak membutukan kekuatan/senjata untuk menjadi seorang pahlawan dalam membela sesuatu yang benar, tetapi saya hanya membutuhkan pena dan tinta! Bahkan seorang Napoleon Bonaparte tidak pernah gentar sedikitpun dengan sabetan pedang, tetapi justru ia takut dengan krtikan-kritikan yang ditulis oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Menulis tidak harus selalu memiliki bakat atau latar belakangnya. Seorang Helvy Tiana Rosa pernah berkata bahwa “Menulis itu tidak penting soal latar belakangnya, yang terpenting tekad dan latihan. Bakat itu bonus dari Allah, tergantung bagaimana kita mengasahnya. Meskipun tidak mempunyai latar belakang sastra, sangat bisa untuk menjadi sastrawan.” Itulah salah satu hal yang memotivasi untuk mencoba menulis. Menulis, ingin saya jadikan sebagai bagian dari perjuangan dan dakwah saya dalam membela dan menegakkan agama islam di bumi pertiwi tercinta ini ataupun seantero dunia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.